Thursday, September 3, 2009

Sebutir Kurma

Ya, sebutir kurma. Berbuka puasa hanya dengan beberapa butir kurma di negeri para nabi mengingatkanku dahulu di kampungku waktu buka puasa. Dulu ketika menjelang buka puasa aku pasti bertanya pada ibuku; “bu' sekarang bukanya pakai apa?” , “ya itu yang ada di meja”, jawab ibu singkat. Sejurus kemudian aku menggerutu karenabuka puasanya hanya itu-itu saja ketika itu, {hanya itu!!!!?} padahal yang ketika itu untuk ta'jil-annya saja sudah ada kolak pisang, bakwan, kue apem, dan ada buah mangga, terus untuk makam malamnya sering ibu masak ayam. Aku juga masih saja kurang syukur. Dan tak jarang juga piring atau gelas yang sehabis aku pakai aku letakkan dengan kerasnya hingga menimbulkan bunyi “ prakk”, sebagai bentuk protesku pada ibu. Mengingat itu semua kadang air mata ini mengalir dengan sendririnya. “Sampai segitunya” batinku sekarang.
Namun sekarang berbuka puasa hanya dengan sebutir kurma aku merasa sudah cukup dan bersyukur sekali.
Aku yang jauh dari ibu bapak, yang kalau mau makan aku harus masak sendiri. Dan apalagi ketika menjelang buka puasa dan waktu sahur tiba, aku harus repot-repot menyiapkan segala macam yang ingin aku masak. Eh, belum lagi di coolkas sama sekali tidak ada bahan yang bisa untuk di masak. Waduh, harus belanja kepasar, deh. Alloh.....terimakasih, Engkau masih karuniakan aku badan yang sehat dan sempurna lagi tanpa ada cacat apapun di anggota badanku. Dan Engkau masih memperkenankan aku untuk berbicara dengan orangtuaku meskipun dengan jarak unun jauh disana, yang penting mereka kedua orangtuaku masih tetap sehat wal 'afiyat.
Kadang hati ini di selimuti rindu yang mendalam karena ingin sekali bertemu dengan ke dua orangtua ku, sudah tiga kali puasa dan insya Alloh tigakali lebaran juga aku tidak sungkem pada bapak ibu, aku hanya bisa sungkem lewat telpon yang kadang suara di seberang sana sama sekali tidak jelas, itupun kalau dana untuk telpon ada, kalau tidak ada ya sekedar SMS-an. Ya, semoga dengan ini menambah kecintaanku pada ibu bapakku. Yang dulu ketika di rumah, sama sekali aku tidak pernah mensyukuri dan sadar bahwa aku masih punya ibu dan bapak, Astaghfirullah. Memang jarak yang jauh kadang membuat kita semakin tambah cinta, tamba sayang dan ada rasa kangen. Yang dulu sama sekali tidak ada rasa kangen. Atau ingin sekedar ngobrol atau bahkan bercanda dengan ibu bapak. Tapi perasaan itu baru muncul sekarang. Yang sekarang ketika aku dan ibu bapakku berjauhan.
Sekali lagi terimakasih, Alloh. Karena Engkau masih bisa memberika umur yang panjang kepada ibu bapakku dan terimakasihku karena Engkau masih sadarkan aku untuk selalu mengingat mereka. Aku mohon pertemukan aku nanti dengan ibu bapaku dalam naungan cinta dan kasih sayang-Mu. Begitu juga pertemukan aku dengan kakak dan adikku nanti dalam gendengan tangan mesra-Mu yang ketika kami dulu di rumah sering bertengkar hanya karena persoalan sepele. Dan baru merasakan juga aku di karuniai seorang kakak yang baik hati, yang tiap bulannya harus meluangkan waktunya untuk pergi mondar-mondir ke BANK mentransfer uang untukku, astaghfurullah.....baru sadar juga aku kalau aku iniada seorang kakak yang baik hati. Betapa dan betapanya aku ini.
Segudang nikmat-Mu Engaku limpahkan padaku, Alloh. Terimakasih Alloh. Harus dengan apa aku haru membalas semua ini pada-Mu, Alloh. Dan harus dengan apa juga aku harus membayar semua ini kepada bapak ibu dan kakakku nanti. Dan betapa tidak tahu malunya aku ini yang sudah besar masih saja mengandalankan kiriman uang untuk sekedar uang jajan? Ah, hati ini kalau mengingat itu serasa sakit, namun aku tidak mampu. [Tidak mampu!!?] Atau itu hanya kilahku saja karena aku bermalas-malasan di sini. Alloh, ampuni aku.
Alloh, istiqomahkan aku di jalan ini; menuntut ilmu di negeri orang. Sabarkan aku di kala cobaan-Mu datang kuatkan jasmani dan rohaniku agar aku bisa menjalankan tugas ini dengan sempurna. Dan Berikan aku yang terbaik untuk aku persembahkan pada mereka yang senantiasa berbuat lebih padaku, tak lain adalah Ibu Bapakku dan kakakku. Dan tak lupa seluruh keluarga di rumah yang senantiasa menudkungku di sini. Alloh, aku tahu Engkau maha pengampun atas segala dosa, kepada siapa lagi aku harus meminta ampun selain Engaku?.Tiada lain hanya Engkau, Alloh.


Tuesday, July 21, 2009

Ijinkan Jariku Menari

Lihatlah jari-jariku menari dengan indahnya
merangkai kata hasil imajinasi

merenung sejenak jaripun berhenti menari
“uh, dia hadir sebagai pengganggu saja”, batinku
aku ingin sendiri, menari-nari dengan leluasa tanpa ada yang mengagguku
duh, kenapa dia hadir lagi
menjengkelkan!!!enyahlah dirimu dariku, jangan ganggu aku.
tuh kan, screensaversnya muncul lagi!!!
jaripun menggerutu, tak bisa menari
udah, sana pergi..!!!

Asik.....sekarang dia pergi
leluasa aku menari
sendiri tak ada yang jahili
senyum tipis kelingking kananku
melihat ibu jari membuat spasi; ctok..ctok..ctok
“duh capek”. katanya
“ayo semangat”, kata kelingking kanan yang selalu aktif dengan A,Q dan Z-nya.
“ups, ternyata kita mengganggu tidur seseorang”, kata si telunjuk yang tak mau lepas dengan F dan J-nya
“sssseett!!!” jari manis kasih peringatan pada ibu jari supaya pelan saja penjet spasinya.
“udah ya, capek”. kata si ibu jari.
“huu..!!! paling besar sendiri kok tanaga kecil”. kata si jari tengah.
“ya udah kita berhenti saja, kasihan ibu jari”. kata si kelingking
“maklum ibu sudah tua, nggak kuat lama-lama”. kata ibu jari.
kita sudahi saja ya...?
“ya.!!!” kata si jari manis, girang, sambil loncat ketanda titik, ctik.





Saturday, July 18, 2009

Harapan-Harapan Besar

Duapuluh tiga tahun yang lalu, lahirlah aku ke dunia dengan pendengaran dan penglihatan yang belum semprna dan juga mulut ini masih dalam kebisuan, hanya bisa menangis dan menangis.
Jerit tangisku malam itu mengganggu tidur di malam hening. Tak ada yang tau mauku, kerena aku hanya bisa menangis dan menangis. Namun ada seorang wanita yang paling berjasa dalam kelahiranku, dia peka, bisa merasakan dan faham apa mauku, yaitu ibuku. Ibu sontak langusng faham, bahwa si jabang bayi sedang kehausan atau lapar. kemudian meneteklah aku dengan semangat, kemudian diamlah aku dari tangis. Jasa Ibu tak tertandingi. maafkan aku, ibu, jika sudah mengganggu tidurmu.....
Dua puluhtiga tahun silam aku menjalani hidup ini dengan seadanya, mengalir apa adanya, tanpa babibu aku protes ini itu dengan berbagai pertanyaan; kenapa aku dilahirkan? kenapa aku ini di lahirkan di desa tidakdi kota?, kenapa aku tidak tampan seperti Adam Jordan? dan Bla bla bla. seabrek pertanyaan itu tidak ku lontarkan.
Hidup dengan selalu menjalani apa yang di perintahkan tanpa protes dan tanpa melawan dan lebih-lebih tidak melaksanakannya. Aku sendiri merasa bahwa hidup ini memanglah untuk mengabdikan kepada sang pencipta. Bersukur karena sudah di lahirkan ke dunia hingga aku menikmati indahnya dunia seisinya, aku bisa merasakan apa itu enak apa itu tidak enak dan sebagainya.
kehidupan yanga fana ini kadang menipu aku, aku terbuai rayu setan, rayuan gombal yang meninabobokan aku hingga tertidur dalam selimut biadab yang penuh nafsu. Na'udzubilah!!!

Kurang lebih 19 tahun kujalani hidup di desa, sisanya di pondok pesantren dan di luarnegeri. Tak henti-hentinya aku bersyukur, aku bisa menjalani sebagian masa-masa pendidikanku di luar negeri. Namun tak lupa juga aku harus berterimakasih kepada pesantren yang telah mengajariku, yang secara tidak langsung memberikan petunjuk padaku hingga aku terbang keluar negeri. Tapi sebenarnya yang paling berjasa adalah kakakku sendiri, yang kalau dia tidak menunjukkan aku untuk menuntut ilmu di pesantren, mana mungkin aku bisa ke luar begeri, namun itu semua adalah kehendak Alloh semata, dialah yang menakdirkan ku terbang hingga di negeri para Nabi ini. Rasa syukur teruslah mengalir tanpa nenti, meskipun dalam keadaan susah.
Teringat masa-masa kecil dulu hidup di desa, bermain bersama teman-teman, asik sepertinya. serasa masa kecil itu tak kan pernah habis, pikirku dulu. sempat ku berfikir ketika kecil dulu, ketika itu aku baru kelas 3 Madrasa Ibtidaiyah, setingkat sekolah dasar; kapan ya aku ini sudah tidak lagi bersekolah, aku bosan dengan sekolah aku bosan dengan buku-buku sekolah, aku bosan melihat bangku-bangku sekolah, aku bosan melihat pak guru dan buguru, aku ingin segera keluar dari dunia pendidikan sekolah ini, kemudian aku bisa hidup selayaknya orang dewasa yang bisa bebas lepas tanpa ada kungkungan dari pihak lain, tanpa ada omelan orangtua karena aku tidak belajar dan tidak mengerjakan PR dan lain sebagainya.
Argh, itu hanya fikiran-fikiran yang kotor saja, itu hanya fikiran-fikiran yang mandeg dan konyol, yang hanya berfikir sekali saja tanpa di selingi perenungan yang matang.
Setelah aku menginjak dewasa, masa-masa di jenjang sekolah menengah pertama; aku baru bisa berfikir pandangan ke depan, bagaiman aku ini nanti bisa menjadi orang yang bisa membangun daerahku, bagaimana saya harus menjadi orang yang sukses, bagaimana aku ini nanti hidup tidak hanya menjadi seorang petani sebagaimana orangtuaku, meskipun pekerjaan itu tidak hina bahkan malah suatu pekerjaan yang mulia. Namun aku ingin merubah generasiku nanti dengan generasi yang lebih mapan dan hidup nyaman, tidak sengsara sebagaimana yang orang tuaku rasakan menjadi petani. Hasil pertanian sering di tipu para tengkulak, dan sering di monopoli para penguasa kaya, dan masih banyak lagi orang yang ingin memanfaatkan kebodohan orangtuaku khususnya dan orang desa pada umumnya.
Akhir pendidikanku di tingkat menengah pertama mulai menancapkan Benih Super; aku harus bisa menjadi orang yang mandiri dan sukses, aku tidak mau menjadi seperti kedua orangtuaku aku harus hidup lebih tidak mengandalkan otot saja, tapi aku harus hidup mengandalkan otak yang ku miliki. Orang yang mengandalkan intelektualitas lebih mulia di bandingkan yang mengandalakan otot semata, orang yang mengandalakan otot semata karena tidak kemampuannya untuk memenuhi , mengisi otaknya dengan bacaan-bacaan, atau ilmu- ilmu yang ada di dalam buku dan akhirnya menjadi orang yang tidak tahu perkembangan zaman.
Mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa menggunakan otak karena tidak pernah di isi dan di asah atau bahkan di praktekan, mereka tiap harinya berpeluh, kuras tenaga banting tulang, namun hasilanya sedikit. aku harus menjadi orang yang sukses dan bisa membangun masyarakat desaku nanti, aku harus bisa mambimbing dan mengajari mereka supaya para tengkulak dan para juragan tidak seenaknya menindas orang-ornag desa.
Namun tak lupa juga bimbingan agar tetap beristikomah di jalan agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW, hingga mereka bisa memahami apaarti hidup di dunia yang tidak hanya sekedar bertani dan bertani, mencari harta semata hingga melupakan kehidupan akhirat, harta mamang penting, harta adalah sarana untuk menuju ibdah kepadaNya.
Harapan ini haruslah tercapai, semoga Robb semesta alam mengabulkan cita-cita ini, cita- cita mulia untuk membangun sebuah desa yang tertinggal menju desa yang maju, makmur dan menuju masyarakat yang taat kepada Robb pencipta alam.

MWrD
6 juli 2009

{pagi hari di penuhi penat} Kata, Hadirlah!!!

Dimana kata?

Buntu...

tak dapat menari jari ini di atas keyboard

bosan...

kehilangan inspirasi
rindu tak dapat teratasi
senyum simpul, basi.

diraba
dirasa
dan dibaca

menghdirkan puisi alamsegenggam angan bersulam
tiba di relung terdalam
bait syairpun hanyut dalam nestapa
tak hadir aku bersamanya
kembali pada puisi alam
lembaran lama yang kusam
torehan tinta menjelma kelam

berharap dengan puisi
menepis rindu basi
jari masih menari
sepi dan sepi
batin tak terobati
rindu Ilahi tak ku henti


[Renungan]Rambut Putihku

Angin menyingkap rambutku

terurai berantakan jadinya

seskali rambut putihku nampak mengkilat

helai demi helai aku perhatikah dari kaca

sudah lah, kalau memang sudah takdirnya pasti kan datang juga

tentang rambut putih......di kabarkan termasuk salah satu tamu yang akan menjemput kita di dunia

memang harus di waspadai dan harus siap bekal untuk menuju ke sana.

Dan tidak perlu risau keberadaannya


namaun sesekali mengeluh gaduh

di perhatikannya seakan menjemput ajal, memang.


tapi agak ragu juga sih...

sudah lah yang penting harus selalu siap apa yang akan menimpa...

entah esok berpulang

atau mungkin seratus tahun lagi....



Monday, July 6, 2009

Si Ibu Berkebaya Hitam Menambah Kesyukuranku

Suatu hari saya melihat seorang ibu-ibu  berkebaya hitam , berkerudung yang di sampirkan di
kepalanya. Berjalan cepat sambil teriak-teriak dan ngomel pada orang yang ada di sekitarnya.
Saya sendiri tidak begitu faham apa yang di ucapkannya, karena kebetualn saya berada di luarnegeri, dan saya belum begitu menguasai bahasa di negeri itu, dan memang bahasa yang di gunakan ibu-ibu itu adalah bahasa kampung di negara itu.
Dalam batin saya berbicara; “ada apa dengan ibu-ibu itu kok teriak-teriak sambil memarahi orang sekitanya ?”.
Dan yang menjadi sasaran omelannya adalah orang yang ada di sektarnya, Untungnya ketika itu saya sedang berada di dalam sebuah toko untuk membeli sesuatu, jadi kemungkinan besar seandainya saya berada di luar toko itu akan kena omelan si ibu berkebaya hitam itu.
Sontak aku berfikir; “Oo, orang gila”.
Saya berpendapat begitu karena mamang ada indikasi bahwa ibu itu memang kuraung waras, gila. yaitu ketika orang-orang di dekatnya yang kena omelan si ibu itu, ada yang senyum dan ada pula yang tertawa dan ada juga yang hanya diam terus melanjutkan perjalanannya.
                Cerita di atas sepertinya sudah biasa di negara kita, Indonesia tercinta . dan bahkan kalau kita melihat orang gila di kampung-kampung atau di desa-desa  malah menjadi bahan tawa dan tontonan kebanyakan anak kecil dan ada juga orang dewasa.
Dari sini saya akan coba mengomentari tawa dan senyum atau bahkan diamnya mereka saat melihat orang gila.
Tertawanya mereka mengindikasikan sebuah ejekan dan hinaan atau cemoohan pada orang gila tersebut. Dan bahkan mereka menjadikan sebuah hiburan karena mereka dapat tertawa dengan melihat orang gila tersebut.
Seandainya saya mampu -karena persoalan bahasa tadi- sayangnya saya belum mampu. Saya akan berkata  kepada orang yang tertawa itu, “coba seandainya ibu berkebaya hitam itu adalah salah satu dari anggota keluarga anda atau bahkan ibu anda, maka apa yang anda lakukan ketika melihat salah satu dari anggota keluarga anda sedang menjadi bahan tontonan dan di tertawakan atau di cemooh orang lain?”
Lebih-lebih kita merasa iba dan kasihan, dan bahkan bersyukur pada yang memberi hidup dengan berkata “ya Alloh terimakasih engkau telah memberian kesempurnaan pada hamba, kesempurnaan agama, jiwa dan raga. Sehingga bisa menikmati hidup ini”.
Orang yang menertawakan tadi artinya belum bisa mensyukuri karunia Alloh yang di berikan kepadanya, belum bisa merasakan derita karena mendapatkan comoohan dan ejekan orang lain, bahkan sempat-sempatnya tertawa di atas penderitaan orang lain.
                Sedangkan orang yang hanya diam –melihat orang gila- mengindikasiakan orang itu sedang berfikir dan mensykuri nikmat Alloh yang di berikan padanya, karena dalam hatainya ia berdzikir, “ Ya Alloh engkau sempurnakan jiwa dan raga hamba tanpa satu kekurangan apapun atau bahkan cacat pada diri hamba, sehinga bisa berfikir akan keberadaan-MU melalui alam semesta dan seisinya ini.
Dari kejadian itu dapat di ambil kesimpulan. Pertama, pentingnya belajar bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang begitu penting antar sesama manusia. coba Seandainya saya bisa lancar berbahasa di negera tersebut maka insya Alloh akan saya ingatkan mereka yang tertawa saat melihat orang gila itu. Dan itu merupakan dakwah di jalan kebaikan. Kedua, bagaimana bisa merasakan derita yang di alami orang lain, dan yang ketiga, bisa bersyukur dengan melihat ibu berkebaya hitam tadi.



Seharusnya ke Masjid, Bukan keTerminal.!!!

hari itu matahari menyengat dengan sangatnya, udara gersang, sesekali angin bertiup kencang mengacak-acak tumpukan debu dan berterbangan. Sumpek alias BeTe, dan di tambah lagi pas hari-hari ujian kenaikan. aduh tambah Pusing.

mondar-mandir tak tahu harus bagaimana. “Aku harus mencari tempat yang enak buat belajar” batinku.
duduk di sofa ruang tamu depan sambil balajar, perasaan tak enak samakin menancap dalam-dalam di relung hati.

Sudah menjadi kebiasaaan saya kalau sedang galau, gundah gulana dan apalah, sumpek alias BeTe saya pergi kemasjid untuk menenangkan fikiran sambil membawa buku dan qur'an kecil ke masjid. serasa sejuk di dalam masjid, memang. meskipun hawa panas. Tapi tidak tahu hari itu aku rasanya malas sekali pergi ke masjid. Aku masih mondar-mandir di dalam rumah, kadang ke kamar, kadang ke depan rumah dan kadang juga kedapur entah apa yang saya kerjakan sambil bawa buku pelajaran yang besok lusa aku harus ujian. Pusing, kepala terasa panas, melangkah gontai akhirnya aku putuskan untuk pergi ke terminal, yang kebetulan rumahku tak jauh dari terminal dan aku dengan santainya naik bus yang aku tidak tahu mau kemana bus itu. Batinku dalam hati; entahlah sampai mana aku ini nanti, yang penting aku bisa menenangkan fikiranku.
Tak lupa aku membawa buku pelajaran buat aku baca, berharap ada sedikit pencerahan nantinya, tapi nyatanya malah aku sendiri di dalam bus  melamun bukannya konsentrasi baca buku. kadang sesekali aku memperhatikan para penumpang bus yang baru saja naik ataupun yang sedang turun dari bus. Ah, di dalam bus bukannya tenang  malah tambah kacau fiiranku.
Bus masih  tetap melaju kencang, aku putuskan unuk turun nanti kalau bus itu sudah berhenti di terminal terakhir hingga membawa penumpang lagi.
sampai di terminal akhir kebingungan aku jadinya, tidak tahu daerah mana dan aku sempat membeli makanan di situ, aku pun pulang dengan bus yang  tadi aku berangkat dengan bus itu.
di tengah perjalanan  pulang, aku bertemu dengan segerombolan pemuda, aku rasa mereka anak-anak jalanan.
salah satu dari anak-anak jalanan itu menyapaku sok kenal; "Hai, dari mana mau kemana?" tanyanya songong."Lagi pengen jalan-jalan aja naik bus pulang pergi tanpa ada tujuan". jawabku enteng.
sempat aku berjabat tangan dan berkenalan dengan anak yang menyapaku itu. "kasar dan songong sekali jabat tangannya", batinku dalam hati.
sebenarnya aku pengen ngobrol banyak dengannya tapi aku urungkan niatku itu karena aku melihat dia bukan anak baik-baik, dilihat dari cara bersalaman dan tingkah lakunya di dalam bus yang tidak mengenakkan para penumpang. Melihatpun aku sudah malas sebenarnya.
aku duduk di kursi sendirian dan diam. Kernet bus keliling menyambangi para penumpang, menarik uang karcis bus, dan aku pun di kasih kertas karcisnya sama kernet bus.
tiba-tiba salah satu anak jalanan  tadi memberikan kertas-kertas karcis milik mereka yang sudah tidak belaku lagi pada saya  sambil bilang; ni, buat kamu kertas karcisnya biar kamu bisa jalan-jalan sepuasnya naik-turun bus.
sontak aku jengkel namun aku tidak mengekspresikan kejengkelan dan kekesalanku itu, aku hanya mangkel, marah dalam hati saja.
 sejenak kemudian saya merenung; coba seandainya saya tadi pergi kemasjid saja. di masjid yang hawanya sejuk dan menentramkan hati dan fikiran, kan saya nggak bakalan di kerjain sama anak-anak janalanan itu.
Rasa kesal itu hilang setelah gerombolan anak-anak itu turun dari bus.
aku kembali merenungi diriku yang sedang tidak tau kenapa saya ini kok jadi begini. tidak biasasanya.

memang tiada tempat yang lebih sejuk dan nyaman kecuali di masjid. masjid selain tempat untuk beribadah, juga tempat untuk merenungi sesuatu dikala fikiran tidak tenang, dikala fikiran sedang kacau. Tempat biasa aku melepaskan gundah-gulana dan penat adalah masjid bukan di terminal. tempat  beribadah kepada Robb semesta alam.
Hati akan tenang dan tentram, fikiran yang tadinya dirasa sempitpun akan merasa longgar dan plong.
Wallahu'alam

Wednesday, March 25, 2009

Sadarku

Nyiur melambai-lambai indah di pematang sawah

nina-bobok ibu pertiwi selagi angin sepoi-sepoi
tiba-tiba badai menerjang
sontak terbangun aku.


Siapa hidangkan keraguan....?
laut berbuih putih, terombang-ambing.

Gunung mengeluarkan abunya
sawah, ladang menjadi subur

para petani berkata
“ibu pertiwi, terimakasih”


Sesampainya penghujung keraguan ini
aku akan selalu bersamamu ibu pertiwi
salam dari anak yang tak tahu diri
sesalkan impian-impian masalalu
lari terbirit di kejar waktu

Ibu pertiwiku.......

ku kan selalu menjagamu
aku rela berkorban demi ibu pertiwiku
berharap hari esok tetap berada di pangkuanmu

Lalu-lalang kenangan mengitari diri
lambaian nyiur terus memangguil ku untuk hadir di hadapanmu ibu pertiwiku

Panggung politik berjubelkan hipokrit-hipokrit tak berduit
menghanguskan idiologi bangsa
“ibu pertiwi katanya sedang lara?”


Monday, March 16, 2009

Keseriusan Berbuah Kepuasan

Siang yang panas. Raja siang menampakkan keperkasaannya, panas Bara api membakar. Semakin bergejolaklah ambisi para penuntut ilmu. Angin kencang menghembus di sela-sela serambi masjid, berbisik lembaran-lembaran mushaf para hamba-Nya. Duduk di beranda masjid seorang mahasiswa Al-azhar sambil memandangi menara masjid yangmenjulang tinggi.

Dengan kaos oblong dan tas hitamnya ia letakkan di sampingnya.
tatapan matanya yang tajam ke arah menara , nampak dia merenungkan sesuatau atau dia sedang memikirkan sesuatu, gelisah dan sesekali dia menghimpit lututnya dengan kedua tangannya.
Rasa penasaranku tak bisa ku bendung untuk mendekatinya.

“maaf, dek... Jam berapa sekarang ya?” tanyaku basa basi.

Dia hanya memperlihatkan seiko yang ada di tangannya, ku lihat kira-kira jam sebelas siang menjelang Sholat Dzuhur.
Ku ambil mushaf di saku, lalu ku buka kemudian ku baca di sampingnya, siri.
Dia masih duduk dengan paha yang di apit kedua tangnnya.
Matanya benar-benar membendung sesuatu, seakan bendungan itu jebol sebentar lagi.
Pikirannya kalut, kurasa begitu.
Aku masih melantunkan bacaanku dengan suara siri. Ku dengar isak tangisnya,
“oh, dia menangis” pikirku.

Seperempat jam sudah dia berada dalam linangan airmata. Semakin tidak tega aku melihatnya .

“Kok nangis, dek. Ada apa?”

tanyaku padanya yang masih duduk seperti biasa.
Dia tetap menangis dan tak menjawab pertanyaanku. “Boleh aku tahu nama adek?” . “Irfan”. Jawabnya singakat.
“Irfan, mungkin aku bisa bantu kamu, tapi sebenarnya ada apa denagan kamu kok nangis. Pasti ada masalah atau musibah yang menimpa dirimu?” tanyaku padanya.

ALLAHUAKBAR....ALLAHUAKBAR......

Saura Muadzin menggema, memantul dinding-dinding berukirkan simbol-simbol Yahudi-Israel itu. mengitari gang-gang masjid, menysup selala-sela jendela masjid berukirakan bintang David. Adzan dzuhur berkumandang waktu sholat tiba. Irfan belum menjawab pertanyaanku.
Dia masih menangis
“dek, sudah adzan lo, lebih baik kamu ambil air wudhlu kemudian kita sholat di dalam, setelah itu kamu ceritakan ada apa sebenarnya dengan kamu”.

Kataku sambil bangkit dari sampingnya.
Dia pun bangkit sambil mengusap air matanya

“oke, kita ke tempat wudhlu” kataku.


Maha Besar Alloh yang telah mengadakan air sesegar ini. Dahaga di sembuhkan, kerontang terbasahi, panas yang menjalar ke seluruh tubuh terealisir sudah.
Suara Iqomah menggema, terdengar dari tempat wudhlu, pertanda kewajiban menjalankan sholat akan segera di tunaikan.

….........”Kenalkan nama saya zaki Ulil Azmi dari kediri. Biasa teman-temanku panggil aku dengan sebutan, jeki” . kataku pada irfan. Sambil berjabat tangan dengannya.

“fan, kok kelihatannya sedang ada masalah , boleh aku tahu masalamu?”

“ya boleh, aku hanya sedih aja saat melihat hasil ujianku, aku gagal untk tahun ini.” katanya.

“oo... itu to masalahnya, “kamu tingkat pertamaya?”

“iya” jawab Irfan.

“Aku sedih kalau ingat usahaku mati matian dalam belajar” ,kata irfan.

Irfan mulia cerita; Berangkat kuliah dari rumah pagi-pagi, pulang sore sekitar habis ashar, sehabis itu aku tidak langusung pulang kerumah , tapi aku tinggal di masjid dulu untuk menghafal Qur'an sambil menunggu waktu maghrib tiba, dan setelah maghrib aku mengikuti bimbingan belajar di kekeluargaan. Dan aku sadar memang Bahasa Arabku lemah, aku sulit untuk memahami buku-buku diktat kuliahku. Padahal aku sudah berjanji pada orangtuaku, bahwa aku setelah di mesir nanti akan berusaha mendapatkan nilai yang bagus supaya mudah untuk mendapatkan minhah, beasiswa.
Bapakku hanyalah seorang petani yang penghasilannya pas-pasan untuk kehidupan keluargaku sehari hari. Ibuku berjualan di pasar . Untuk tambahan supaya dapur tetap mengepul. Satu tahun ini memang aku di kirim uang dari rumah, itu pun tabungan bapakku untuk biaya hidupku selama satu tahun saja. Yang itu memang sudah di persiapakan sebelum keberangkatanku.
Tapi untuk tahun berikutnya aku harus sudah tidak mengandalkan kiriman dari rumah lagi.

Mendengarkan cerita irfan aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja, sebab hal semacam itu kelihatannya sudah biasa terjadi.

“kalau begitu kenapa kamu tetap nekat berangkat ke mesir sedang orang tuamu tidak mampu membiayai kehidupanmu selama di mesir.?” Tanyaku padanya.

“Itulah salahku, aku tidak ada ganbaran tentang mesir , yang aku tahu mesir hanya sebuah negara yang banyak muslimnya yang dan taat beribadah.” timpalnya.

“ Dan aku pernah dapat cerita dari pak Bondan, alumni Al-azhar juga. Katanya; kalau soal biaya kuliah sendiri gratis dan kita hanya memerlukan biaya untuk hidup di sana saja tapi jangan khawatir dengan biaya hidup di sana, banyak lembaga-lembaga penyalur bantuan bagi siapa saja yang najah. apa lagi kalau dalam ujiannya itu dapa predikat jayyid, atau jayyid jiddan, sangat mudah untuk mengajukan beasiswa, apalagi dengan predikat mumtaz.”
. cerita irfan apa yang pernah di ceritakan pak Bondan.

“Cerita pak bondan itu membuatku lebih optimis untuk kuluah di mesir”. Imbuhnnya

“oo... jadi begitu, fan. Kamu lulusan pondok kan?”
“ya aku lulusan pondok yang sudah mu'addalah [sudah di setarakan]” kata irfan.

“Asal tahu saja ya, fan. Memang kamu lulusan pondok yang sudah mu'addalah, dan itu salah satu syarat yang harus di penuhi, memang. Dan yang penting lagi adalah; kamu sendiri sudah mu'addalah dengan bahasa arab belum?. Dan menurutku itulah yang paling penting. Sedangkan kamu sendiri lemah dalam Bahasa Arab.” kataku pada irfan. Irfan hanya diam seribu bahasa.

…...”O iya, fan. Ngomng-ngomong kamu berapa pelajaran yang kamu tinggal?”. Tanyaku pada irfan. “enam pelajaran semuanya termin dua”. Jawabnya.

“O..jadi nanti kamu termin satu nganggur dong?”

“Iya” jawabnya pelan.

“Kalau begitu gunakan waktu senggangmu itu untuk memeperdalam Bahasa Arabmu.
Kalau kamu mau, tiap habis ashar datang saja kerumahku , nanti kita belajar bahasa arab" .
Saranku.

“Jadi nanti Mas Zakai sendiri yang akan membimbingku?, nanti apa tidak merepotkan, Mas Zaki?"
Tanyanya.

“Nggak..... aku nggak membimbing kamu tapi kita belajar berasama-sama , saling memberi masukan, gitu.” Jawabku.
“Ah, mas zaki ini merendah”. Timpalnya.

Ya insya Alloh aku akan datang ke rumah mas zaki sehabis ashar.

“Ngomong-ngomong, mas Zaki sudah tingkat berapa?”

“Alhamdulillah aku sudah selesai S1 dan sekarang aku sedang dalam proses menulis tesis”. Jawabku.

“Wah hebat dong! Mas Zaki, bisa melanjutkan S2 di sini” sanjung irfan padaku.

“Semua itu proses, fan. Aku dulu juga pernah gagal di tahun pertama dan merasakan seperti kamu juga . Dan aku tidak pantang menyerah terus belajar dan belajar , dan tetap mendalami bahasa arabku yang amburadul.
Mungkin di bandingkan dengan kamu, masih lumayan kamu kok”


Angin mengembus sepoi-sepoi, menyibakkan rambut Irfan yang belah tengah itu. Sesekali dia merapikan rambutnya dengan tangannya.

“Sudah, fan. Jangan terlalu di fikirkan, Insya Alloh apa yang menimpa pada diri kamu saat ini ada manfaatnya di kemudian hari", kataku pada irfan.

“Amien” timpal irfan lirih.

“O iya, mas. Boleh aku minta nomer HP mas zaki?” tanya irfan.
“Boleh saja , fan”.
Di keluarkannya Nokia dari saku celananya.

“Sebutin nomrny, mas!.”
“0166797390” jawabku.
“syukron ya, mas”.
“sama-sama, fan”
“aku pergi dulu ya?, ada acara di kekeluargaan , kapan-kapan datang aja ke rumah ku ba'da Ashar. Tapi sebelumnya telpon dulu ya.."
“ya, mas. insya Alloh”

“sudah ya sampai bertemu lagi”

“Asslamu'alaikum....”
“Alaik salam, mas zaki...”

Selang Berapa minggu kemudian Irfan menelponku
dia berminat untuk belajar Bahasa Arab di rumah.

Panas matahari membakar dedaunan , udara panas berseling angin kencang, berdebu.
Irfan dengan semangatnya datang kerumahku .
Liburan kali ini dia gunakan untuk mendalami Bahasa Arabnya , ia sadar akan kelemahan dan kekurangnnya . Dan ia harus tetap beristikomah di jalalnnya itu.
Hari berganti minggu minggupun berganti bulan, bulan menjadi tahun, kini genap sudah setahun dia belajar bersamaku.
Iapun mahir dan lancar berbahasa Arab dan mampu memahami buku-buku diktat kuliahnya.
selagi mau berusaha dan bersabar Insya Alloh akan di berikan jalan kemudahan dalam menempuh kesulitan.
irfan pun demikuan dia di beri kemudahan dalam menempuh studinya untuk tahun ini , nasib baikpun menjemputnya dia mendapatkan predikat yang ia cita-citakan.




Monday, March 9, 2009

GENOSIDA di TANAH Al-QUDS

Lambaian pohon zaitun itu
menggugurkan buahnya
tumbang berserakan pohon kurma
pasir berbisik, tentara dengan granatnya
ganasnya genosida zionis Israel
tank-tank menderu menyerbu, meburu, kelabu Palestina
Anak-anak tak berdosa, ibu-ibu hamil, mamalia yang sedang menyusui dan kakek tua dengan tongkatnya. BOOM....BOOM.... BOOM.... Syahid mereka.
Memori-memori yang tak kan terlupakan oleh mereka
kebencian yang mendalam menyelimuti malam-malam mereka.

Bungkam negeri seribu menara,
tutup mata negeri para anbiyak,

oh, konspirasi...?
Amerika yang seolah-olah tak tahu-menahu menjadi penengahnya, Bajingan!!
Yahudi Israel gembor-gemborkan kejadian Holocaust, mitos belaka.
Debatable.............




Sign by Dealighted - Coupons and Deals