Angin berhembus segar, dedaunan berbisik olehnya. Bunga sepatu bermekaran, indah.
Riuh serentak bunyi sepatu langkah menuju kantin. Lalulalang siswa siswi seseklai bertanya tentang pelajaran pagi tadi karena mungkin terlambat masuk.
Hayo...!! lagi ngapain ketahuan sekarang, pantesan hari-hari ini seriang melamun,btw siapa sih yang sedang kamu lamunin....? Rini membuatku kaget saat aku duduk di depan kelas sendirian
“sudah.......nanti aku sampein perasaanmu ke dia aku tau kok tipe orang seperti kamu, malu kan mau ngungkapin isi hati, cie... cie.. isi hati bo....ledek Rini padaku
“enak aja, ngga' lagi.....”bantahku sambil merapikan rambut yang
tersibak angin.
Memang sih aku ada rasa sama dia, rasa yang tulus, sayang dan apalagi kalau sudah melihat perangainya yang lembut wajahnya yang selalu berseri dan akhlaknya yang mulia, tidak pernah marah dan apalagi bikin marah orang lain rasanya aku ingin sekali mendekatinya dan mengatakan “maukah kau menjadi permaisuriku?”
buat apa perasaan itu kamu pendam baiknya kan ungkapkan saja dari pada kamu nggak bisa tidur dan selalu terbayang-bayang sama bidadarimu itu.he he he....., Rini berusaha menasehatiku sambil meringis.
Teng....teng...teng.... “yan! Udah bel masuk, tiu bu Lifah sudah keluar dari kantor”, kata Rini.
Bahasa indonesia ya? Tanyaku pada Rini yang sedang menuju pintu kelas.
Suasana gerah dan panas namun penuh tawa canda teman-teman, hanya aku yang kelihatan kurang sumringah.
Khem..kehm.. hayo....ngliatin siapa ni....? Bakri yang kebetulan teman sebanguku dengan aku tahu kalau aku sedang curi-curi pandag sama si Hasna yang kebetulan dia duduk di samping kiriku yang berbatasan dengan bangku yang di duduki Ima dan Ana. Udah!.... baiknya kamu temuin aja dia kalo kamu ada rasa sama si dia,ada rasa nih rasa apa ya.....hik hik hik. Bakri pun kelihatanya meledek aku.
“Ngaco kamu hari gini mau main cinta-cintaan, satu bulan lagi ujian, Kri.” Bantahku
“ya sudah kalau begiru habis ujian, gimana?”
Desak Bakri supaya aku mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku selama ini.
…...Malam begitu cerah berselimutkan cahaya bulan nampak di jendela kamarku
dan di hiasi bintang bintang kecil yang bertaburan di langit, kupandangi bitang-bintang itu hanya satu bintang yang begitu membuatku terkagum, seakan berkedip padaku dan mengajakku tuk berimajinasai.
Ya Alloh...pengusasa hati para pecinta sang kekasih, taburkanlah beni-benih cinta di hatinya agar dia memahami maksud hatiku, aku sudah tak sanggup menahan semua ini. Maka dari itu berikan padaku pelajaran tentang sabar dalam cinta, sabar dalam menunggu benih-benih cintannya tumbuh hanya untukku
Dorr..!!!hayoo lagi mikirin apa nih? Adikku membuatku terbangun dalalm lamunanku saat aku sedang rebahan di tempat tidurku.
“Lain kali permisi duli kek, paling tidak salam gitu kalau masuk ke kamar orang lain”, benatakku pada Wati, adikku.
“Ya ya maafin Wati kak!! lagian pintunuya nggak di tutup”, Wasi masih tetap membela dirinya.
“ya kakak maafin”
kakak nggak belajarm bentar lagi kan mau ujian? Wati berlaga menasehati ku
“ni kakak sedang belajar”, jawabku.
“Belajar kok melamun” cibir Wati
apa ada masalah, kak? Atau lagi mikirin.......?
ekhm,..si dia....? tanya wati, sambil senyum kecut.
“Si dia siapa? “Jawabku pura pura tidak tahu .
“Nggak usah pura pura lah, kak. Wati udah tahu kok siapa yang ada di fikiran kakak sekarangh, he..he..he..he”
“tadi mbak rini kan telphon Wati, dia cerita tentang kejadian di sekolah tadi, hik.. hik.. hik..”
“nyengir lagi! Memang ada yang lucu?” Tanggapanku pada cerita wati yang duduk di tempat tidur ku
“nggak ada yang lucu sih...... cuman aseh aja”
“ternyata kakak bisa juga jatuh......he he he”
“jatuh apa?” sahutku.
“Enak aja kakak juga manusia yang punya rasa, rasa cinta dan suka pada lawan jenis, normal kan,? tapi tuk saat ini kakak belum bisa ngungkapinnya pada dia, kakak nggak tahu kenapa mulut ini sulit sekali untuk mengatakan CINTA” cutharku pada wati yang mungkin dia lebih tau apa arti sebuah cinta karena aku tahu dia sudah cukup dewasa .
Aku cukup dekat dengan adekku ini, dia sekarang duduk di kelas Satu Madrasah Aliyah.
“Kenapa sulit, Kan hanya ngucapin lima huruf dan tinggal di tambah aku dn kamu?”. Celetuk wati.
“Iya sih hanya 5 huruf tapi ini berat dan beban di kemudian hari ,bisa mengganggu belajar dan kadang ibdahpun bisa tidak khusyuk.
Dan masih seabrek persoalan lagi yuang akan tekena imbasnya dan harus di ingat, wat. Kakak nggak mau cinta pada perempuan hanya karena berlatar belakang kelamin dan mengandalankan nafsu bejat yang tak ada ujungnya kalau di turuti “.
“Ya sudah , sekarang tinggal bagaimana baiknya kakak menyikapinya saja. Setahu wati laki-laki itu harus jentel dan tegas untuk urusan yang satu ini. Biasanya cewek tu suka sama cowok yang tegas dan pemberani”
“Wat, tapi kan....sekitar satu bulan lagi kakak ujian akhir tahun, dan kakak nggak mau ganggu dia ,bisa- bisa nanti dia nggak lulus”. Kataku yang masih terlentang di tempat tidur.
“Ya duah, kalu gutu ungkaou aja sehabis ujian,
ya tahan dulu sebentar gitu aja kok repot.sahut Wati”
“sudah malam ini, kak . Wati mau bobok dulu kata wati sambil keluar kamar.”
Malam semakinlarut bulan yang masih menyisihkan cahayanya dan bintang masih setia menemaninya. Dan aku akhirnya memutuskan untuk melupakannya sejenak barang sebulan untuk konsentrasi pada pelajaran-pelajaran ku.
Singkat cerita, ujian pun di ambang pintu , perang melawan soal-soal pun semakin gendar dan aku terlelap dalam rumus pitagoras, geometri, dan masih seabrek rumus-rumus eksak yang lain.
ujain pun usai sudah soal demi soal ku babat habis, hatipuh ada rasa tidak enak kalau-kalu nanti tidak
gagal ujian.
Satu minggu kemudian aku menerima pengumuman tentang kelulusanku
aku terima amoplop berisi pengumuman dari wali kelasku, ku buka perlahan amplop itu, jantung bak drumb yang di tabuh, hati tersanyat saat detik-detik pembukaan amplop itu.
“BERHAIL” aku lihat tulisan tebal itu bertengger di kertas pengumuman itu.
Gembira bukan kepalang, aku lulus dalam ujian itu. Sujudpun terasa tak cukup untuk mensyukuri atas keberhasilan ini. Gemuruh temant-teman riang gembira tawa-janda bahagia plus haru menderu di ruangan perkumpulan.
“Gimana, kak ujiannya, sukseskan?” Tanya wati yang sedang duduk di teras
“al hamdulillah kakak lulus” jawabku bahagia. Tak bisa aku mengungkapkan kebahagiaanku in pada adikku.
“Ibu dimana, wat.?”
“Tu di dapur sedang masak.”
“Ibu....ibu...bu rian lulus, bu Rian lulus ujian. Ni kertas pengumumannya, bu.”
“Oh ya, pintar anak ibu” puji ibu padaku
“iya dong RiAn.....” jawabku bangga.
Tapi ingat pesan almarhum bapakmu, jangan telalu bangga atas keberhasilan dan jangan telalu sedih atas kegagalanmu, semua itu adalah ujian. Keberhasilankmu sekarang merupakan amanat supaya kamu tetap semangat dalam mencri ilmu. Dan seandainya kamu gagal itu merupakan ujian buat kamu. Apakah kamu kuat mengahadapi ketidak lulusanmu. banyak anak yang frustasi dan stres hingga akhirnya anak itu mengkonsumsi obat-obat terlarang dan minum-minuman keras karena gagal dalam ujian, itu artinya anak itu sudah gagal dua kali. Gagal menghadapi cobaan dan gagal Ujian di sekolahnya. Dan kamu, rian, harus bisa menilai, Bahwa anak yang lulus dalam ujiannya belum tentu dia anak yang pandai dan cerdas, kadang anak yang cerdas dan pandai malahan tidak lulus dalam ujian di sekolah, karena kepandaian seorang murid itu tidak bisa hanya di ukur dengan kelulusnya dalam ujian sekolah.
“Iya bu, Rian akan selalu ingat nasehat itu”. Jawabku.
“Sudah, mandi dulu sana, nanti baru makan”
….....“Rian, bagaimana rencana mu kuluah di jogja?” Tanya ibu saat makan malam.
“di jogja?” sahut wati pembicaraan ibu.
“Wati, ibu ngga tanya kamu, tapi ibu tanya kakakmu, Rian”
ya bu' maafin Wati.
“Memangnya kenapa kalau kakak ambil kuluah di jogja?” Tanyaku pada Wati.
“heran aja, memangnya di jakarta sendiri nggak ada kampus apa?” Jawab Wati.
”cari-cari pengalaman kan boleh jadi apa salahnya seandainya kakakmu kulah di kota gudeg itu, kan sesekali Rian bisa bawain ibu Gudeg Jogja buat ibu”. Canda ibu sambil mengelap tangannya dengan tisu karena sudah selesai makan.
“Ah, ibu itu bisa aja” jawabku.
“Tuh kan, wat. ibu aja nggak keberatan kok kalau aku kuliah di Jogja, jadi kenapa kamu yangkeberatan”
bantahku pada Wati
“Sudah.. sudah..kaliah malah bertengkar!” Kata ibu sambil menuju teras .
kak, mbak Hasna mau kuliah di mana ya? Celtuk Wati sabil membereskan sisa-sisa makanan.
“Mana kakak tahu, ketemu aja sudak nggak pernah kok.” kataku
“memangnya kakak sendiri belum ketemu? Gimana sih! Apa kakak malu ketemu sama mbak , ah kakak ini cemen nggak jentel, gitu”
“bukan kakak nggak berani atau malu, Wat. Tapi kakak belum ada kesempatan yang bagus waktu itu buat ketemu sama mbak Hasna, lagian kan waktu itu lagi hari ujian.”
payah kakak ini! Kata Wati sambil membawa piring ke dapur untuk di cuci.
“itu terserah kakak dong!? Sudah, kalau mau nyuci piring cuci piring aja nggak usah ikut campur urusan ornag lain”.
Singkat cerita,
Hasna yang selama ini ada dalam impianku ternyata jatuh ke tangan orang lain,
bak buah yang ranum yang siap aku petik kini dia menjadi milik orang lain.
Sakit rasanya hati ini namun aku hanya bisa berpasrah atas ketidakmampuan pengungkapanku padanya, sebenarnya cinta tidak akan sirna karena hanya sebatas tidak kemampuan pengungkapan, cinta akan tetap membekas di dalam hati. Cinta itu bisu. namun dia membara di dalam hati.
Saturday, February 28, 2009
Thursday, February 5, 2009
Bingung
hembusan sukma suci
kesepian melanda jiwa
kemana kau pergi kan ku dapati
dimana penyamun?
tuhan maha tahu atas segala perbuatan
dimana lagi ku dapati diri yang
melengkung terjun bebas
kemana langkah pijakan kaki
hati terus bergemuruh menderu
atas permintaan siapa kamu menemuiku
kau hanyalah babu tak berguna
kau menghayal tak ada guna
menghela nafaspun tak cukup
ampunanNYA kau kan dapati di mana?
dia lah pengampun segala dosa dosa
hendaknya kau lebih tahu itu
siapa dia menjelma?
kemana laki laki berjubah itu
langkah tegar
langkah getar
hati mengaru
tenggelam dalam bius cinta
tak layak berkhayal kau agar aku menemanimu
disaat kesepian yang kau rasakan
selalu menjadi beban didirimu
siapa dia menghadang takdir ....?
kesepian melanda jiwa
kemana kau pergi kan ku dapati
dimana penyamun?
tuhan maha tahu atas segala perbuatan
dimana lagi ku dapati diri yang
melengkung terjun bebas
kemana langkah pijakan kaki
hati terus bergemuruh menderu
atas permintaan siapa kamu menemuiku
kau hanyalah babu tak berguna
kau menghayal tak ada guna
menghela nafaspun tak cukup
ampunanNYA kau kan dapati di mana?
dia lah pengampun segala dosa dosa
hendaknya kau lebih tahu itu
siapa dia menjelma?
kemana laki laki berjubah itu
langkah tegar
langkah getar
hati mengaru
tenggelam dalam bius cinta
tak layak berkhayal kau agar aku menemanimu
disaat kesepian yang kau rasakan
selalu menjadi beban didirimu
siapa dia menghadang takdir ....?
Romantisme Sebuah Perjalanan.
Hari itu, saat dimana dia selalu duduk sendirian dibawah sebuah pohon rindang di dekat perempatan jalan raya itu.sorot mata yang terlempar dalam raut wajahnya membuatku tau akan apa yang sedang ia nanti di ujung jalan itu.hujan deras dengan petir menyambar membasahi baju yang setiap hari ia kenakan.
aku melihat sebuah jam yang setiap hari ia genggam dengan
tatapan kosong itu.tubuh yang lunglai itu tak pernah sedikitpun mengayun mulut walau hanya sebatas ucapan penyesalan atau pun permintaan tolong. yang ada hanyalah sebuah reaksi datar yang sering sekali membuat tanya para pegendara ketika melihatnya
Aku sering sekali bertanya pada diriku sendiri apa yang ia kerjakan setiap harinya disitu? kenapa jam yang ada ditangan kanannya selalu tergenggam erat sekali sampai tanampak dia tak mau sedikitpun jam tangan itu terlepas dari genggamannya. apa yang terjadi sebetulnya dengan orang itu, karena tatapannya tak pernah bisa membuatku tau sebetulnya apa yang ia tunggu.
Malam itu saat dimana aku ingin sekali melihatnya, yang mana sudah tiga hari ini aku tak menemukan tubuhnya berada duduk disana.
Aku bertanya
apa yang sedang terjadi dengan nya
aku mencoba berlari dari rumahku kesana dan aku dapati disana sebuah batu yang terukir dengan sebuah tinta yang sangat tak beraturan
aku mencoba melihat dengan jelas batu itu
aku mencoba membacanya walaupun sangat rumit untuk bisa aku baca. di situ aku menemukan sebuah jawaban.
apa yang terjadi?
aku tak tahu entah kenapa
ketika saat itu juga seluruh tubuhku bergetar
aku menggigil kedinginan, nafasku tersengaaaal, aku tak bisa berbuat apa apa
aku terduduk lusuh bersimpuh dengan hati yang sangat sakit
aku tak tahu aku harus berbuat apa dengan kejadian ini.
Aku mencoba pegi berlari ke suatu tempat dimana aku bisa menenangkan diriku walau hanya sejenak.
Taklama kakiku mengayun dengan hati yang tak menentu aku menemukan sebuah tempat dimana disitulah tempat dimana petujuk itu mengatakan
aku tak tahu dimana sebetulnya tempat itu.
Karna aku tak melihat sedikitpun cahaya bintang dalam menerangi dunia. Tapi hanyalah sebuah jalan buntu yang memberiku jalan antara ke kanan dan kekiri
disana aku menemukan sebuah jam tangan yang tidak asing bagiku, aku mencoba mengingat,apa yang sebenarnya terjadi.ada hubungan apa aku dengan jam tangan ini, kenapa aku sepertinya dekat sekali dengan jam tangan ini. Aku tidak tahu sekaranng ada dimana dan karena apa.
akarena aku seperti lupa akan semua yang barusaja terjadi.
Dan ketika aku melihat ke atas aku melihat dia tersenyam kepadaku. Yah orang yang aku cari tadi tersenyaum tipis kepadaku, dia melambaikan tangan kepadaku
aku tak tau aku merasa bahagia dengan kejadian ini, karena aku seperti menemukan sebuah kebahagiaan yang sangat memenuhi raut matanya. Mata yang tak pernah aku temui
mata yang telah lama sayu tak terhinggapi cahaya yang cerah.
Semakin lama diapun semakin menghilanng dari pandngan ku. Dia semakin pergi jauh meninggalkanku
aku mencoba mengulurkan tanganku padanya
tapi terasa jauh sekali,
tiyaaaaaaaaaaaaaaa!
haiiiiiiiiiiiiii
knpa kamu sampai sniiiiiiiiiiiiiiiii
apa yang kamu lakukan ditempat ini yaaaa'!?
tiba tiba suara keras memukul tlingaku dari belakang
oh kamu ar!jawabku.
ya', apa yang terjadi dengan tangan mu? tangan mu berdaraah ya.
aku melihat sebuah jam yang setiap hari ia genggam dengan
tatapan kosong itu.tubuh yang lunglai itu tak pernah sedikitpun mengayun mulut walau hanya sebatas ucapan penyesalan atau pun permintaan tolong. yang ada hanyalah sebuah reaksi datar yang sering sekali membuat tanya para pegendara ketika melihatnya
Aku sering sekali bertanya pada diriku sendiri apa yang ia kerjakan setiap harinya disitu? kenapa jam yang ada ditangan kanannya selalu tergenggam erat sekali sampai tanampak dia tak mau sedikitpun jam tangan itu terlepas dari genggamannya. apa yang terjadi sebetulnya dengan orang itu, karena tatapannya tak pernah bisa membuatku tau sebetulnya apa yang ia tunggu.
Malam itu saat dimana aku ingin sekali melihatnya, yang mana sudah tiga hari ini aku tak menemukan tubuhnya berada duduk disana.
Aku bertanya
apa yang sedang terjadi dengan nya
aku mencoba berlari dari rumahku kesana dan aku dapati disana sebuah batu yang terukir dengan sebuah tinta yang sangat tak beraturan
aku mencoba melihat dengan jelas batu itu
aku mencoba membacanya walaupun sangat rumit untuk bisa aku baca. di situ aku menemukan sebuah jawaban.
apa yang terjadi?
aku tak tahu entah kenapa
ketika saat itu juga seluruh tubuhku bergetar
aku menggigil kedinginan, nafasku tersengaaaal, aku tak bisa berbuat apa apa
aku terduduk lusuh bersimpuh dengan hati yang sangat sakit
aku tak tahu aku harus berbuat apa dengan kejadian ini.
Aku mencoba pegi berlari ke suatu tempat dimana aku bisa menenangkan diriku walau hanya sejenak.
Taklama kakiku mengayun dengan hati yang tak menentu aku menemukan sebuah tempat dimana disitulah tempat dimana petujuk itu mengatakan
aku tak tahu dimana sebetulnya tempat itu.
Karna aku tak melihat sedikitpun cahaya bintang dalam menerangi dunia. Tapi hanyalah sebuah jalan buntu yang memberiku jalan antara ke kanan dan kekiri
disana aku menemukan sebuah jam tangan yang tidak asing bagiku, aku mencoba mengingat,apa yang sebenarnya terjadi.ada hubungan apa aku dengan jam tangan ini, kenapa aku sepertinya dekat sekali dengan jam tangan ini. Aku tidak tahu sekaranng ada dimana dan karena apa.
akarena aku seperti lupa akan semua yang barusaja terjadi.
Dan ketika aku melihat ke atas aku melihat dia tersenyam kepadaku. Yah orang yang aku cari tadi tersenyaum tipis kepadaku, dia melambaikan tangan kepadaku
aku tak tau aku merasa bahagia dengan kejadian ini, karena aku seperti menemukan sebuah kebahagiaan yang sangat memenuhi raut matanya. Mata yang tak pernah aku temui
mata yang telah lama sayu tak terhinggapi cahaya yang cerah.
Semakin lama diapun semakin menghilanng dari pandngan ku. Dia semakin pergi jauh meninggalkanku
aku mencoba mengulurkan tanganku padanya
tapi terasa jauh sekali,
tiyaaaaaaaaaaaaaaa!
haiiiiiiiiiiiiii
knpa kamu sampai sniiiiiiiiiiiiiiiii
apa yang kamu lakukan ditempat ini yaaaa'!?
tiba tiba suara keras memukul tlingaku dari belakang
oh kamu ar!jawabku.
ya', apa yang terjadi dengan tangan mu? tangan mu berdaraah ya.
Sunday, February 1, 2009
kelana Sang Merpati
Apa yang bisa dilakukan
ketika bayang itu selalu muncul
dalam tiap pijakan langkah
Apa yang bisa dilakukan
ketika rasa rindu mencabik hati
dan mengiris sebagian raga
Sungguh!
semua seperti
himpitan jeruji kosong
sesak nan perih
Ketika dua merpati hinggap
terukir dalam tanjakan pematang
sebuah kisah, dimana
cinta tumbuh dalam dua samudra perbedaan
Terbanglah sang burung satu
mengepak sayap keatas
mencari mangsa
menebah angkasa Tuhan
Terbanglah sang burung dua
meniti langkah, merayap
dalam kepakan ekor,
dibawah lautan satu, janji Tuhan
Penantian
hanya menjadi saksi semu!
ketika bayang itu selalu muncul
dalam tiap pijakan langkah
Apa yang bisa dilakukan
ketika rasa rindu mencabik hati
dan mengiris sebagian raga
Sungguh!
semua seperti
himpitan jeruji kosong
sesak nan perih
Ketika dua merpati hinggap
terukir dalam tanjakan pematang
sebuah kisah, dimana
cinta tumbuh dalam dua samudra perbedaan
Terbanglah sang burung satu
mengepak sayap keatas
mencari mangsa
menebah angkasa Tuhan
Terbanglah sang burung dua
meniti langkah, merayap
dalam kepakan ekor,
dibawah lautan satu, janji Tuhan
Penantian
hanya menjadi saksi semu!
Friday, December 5, 2008
Ada, Tidak Ada
Melangkah tajam tak tentu arah
Mengepakkan sayap tak tahu tempat bertengger
Pemain tak ada permainan
Pelaku tak ada kelakuan
Penyabda, dimana sabda?
Penagih, dimana penghutang?
Kosong…..
Kabut hitam pembawa hujan, dimana turunnya hujan?
Padang pasir tergenang minyak?
Hutan gundul. Longsor menimbun pemukiman
Lambaian tangan negeri adidaya
Bercokol dana bantuan
Apa maksudnya?
Kemana larinya?
Akankah ada sang ayah berceritra pada anaknya;
“nak, dulu ada negara yang namanya Indonesia…..."
Mengepakkan sayap tak tahu tempat bertengger
Pemain tak ada permainan
Pelaku tak ada kelakuan
Penyabda, dimana sabda?
Penagih, dimana penghutang?
Kosong…..
Kabut hitam pembawa hujan, dimana turunnya hujan?
Padang pasir tergenang minyak?
Hutan gundul. Longsor menimbun pemukiman
Lambaian tangan negeri adidaya
Bercokol dana bantuan
Apa maksudnya?
Kemana larinya?
Akankah ada sang ayah berceritra pada anaknya;
“nak, dulu ada negara yang namanya Indonesia…..."
Monday, November 24, 2008
Di Desaku
Kabut hitam menyelimuti gunung
suasana pagi di desaku
jalan bertanjak menikung tajam
jalan berbatu dan berdebu
riuh bocah-bocah kecil permainan klereng
bola-bola karet malambung
langkah tegar pak tani dan bu tani
memburu sekarung padi
ayam jago rebutan betinanya
menthok yang mencari cacing di gangnya.
Tersimpan di memori yang terdalam
suasana pagi di desaku
jalan bertanjak menikung tajam
jalan berbatu dan berdebu
riuh bocah-bocah kecil permainan klereng
bola-bola karet malambung
langkah tegar pak tani dan bu tani
memburu sekarung padi
ayam jago rebutan betinanya
menthok yang mencari cacing di gangnya.
Tersimpan di memori yang terdalam
Friday, October 24, 2008
Aku Meninggalkanmu Karena kau MeninggalkanNYA
Kau salah aku salah
Kau benar aku benar
Dan DIA tidak pernah salah
Karena DIAlah yang maha benar
Kau yang mulai dan sebenarnya....
Kau pula yang mengakhiri dan aku tidak bermaksud mengakhiri
Kau meninggalkan-NYA
Aku meninggalkanmu
Kau tidak patuhi perintah-NYA
Aku melupakanmu
Kau cinta
Aku cita
Kau sayang
Aku sayang
Cinta DIA kepada kau dan aku melebihi cintamu padaku dan cintaku padamu
Kau cintai DIA aku mencintaimu
.....dan DIA, kau dan aku saling mencintai
Kau tidak cinta DIA aku tidak mencintamu
..... karena cintaku pada-NYA lebih besar daripada cintaku padamu
Berakhir sudah sampai sini cintaku padamu
Tidak akan berakhir cintaku pada-NYA.
Kau benar aku benar
Dan DIA tidak pernah salah
Karena DIAlah yang maha benar
Kau yang mulai dan sebenarnya....
Kau pula yang mengakhiri dan aku tidak bermaksud mengakhiri
Kau meninggalkan-NYA
Aku meninggalkanmu
Kau tidak patuhi perintah-NYA
Aku melupakanmu
Kau cinta
Aku cita
Kau sayang
Aku sayang
Cinta DIA kepada kau dan aku melebihi cintamu padaku dan cintaku padamu
Kau cintai DIA aku mencintaimu
.....dan DIA, kau dan aku saling mencintai
Kau tidak cinta DIA aku tidak mencintamu
..... karena cintaku pada-NYA lebih besar daripada cintaku padamu
Berakhir sudah sampai sini cintaku padamu
Tidak akan berakhir cintaku pada-NYA.
Wednesday, October 1, 2008
Rinduku pada Keluarga
Dalam bimbang, kebingungan. Rasa rindu yang kian membuncah
rindu hanya bisa di tahan dan di ikat dan takkan pernah terlepas dari kungkungan. Rasa rindu kian meronta. Biarlah rasa rindu pada ibu, bapak dan seluruh keluarga berjalan apa adanya biarlah dia mngalir apa adanya.
Namun airmata tetap membanjir deras di pipi demi tujuan yang mulia ini.
Bapak, Ibu,Kakek, Nenek, Kakak, Adik, Paman, Bibi. Anak yang satu ini tidak bisa bersua lewat telphon ataupun lewat pesan singkat lewat phonsel karena tempat tujuan berada di luar jangkauan. Namun hanya bisa mengucapkan selamat di hari yang fitri ini lewat tulisan yang tak tahu nanti siapa yang akan membacanya, maafkan atas segala kesalahan yang di sengaja atau tidak di sengaja.
Aku hanya bisa termenung membayangkan suasana riang gembira di desa. Keluarga besar berkumpul sambil bercanda ria dan menikmati hidangan di hari raya, namun aku yang jauh dari keluarga hanya bisa menahan rindu dengan linangan air mata. Ya Alloh berikanlah kekuatan pada hamba-MU ini agar di kuatkan dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu yang mulia ini.
Aku hanya bisa berharap pada-MU ya Alloh agar bisa bertemu keluargaku dalam tidurku, alangkah bahagiannya malam nanti. Itulah harapanku.
Ya Alloh sejahterakanlah keluargaku dan jagalah mereka dalam naungan kasihsayang-MU.
Ya Alloh terimakasih... terimakasaih...
rindu hanya bisa di tahan dan di ikat dan takkan pernah terlepas dari kungkungan. Rasa rindu kian meronta. Biarlah rasa rindu pada ibu, bapak dan seluruh keluarga berjalan apa adanya biarlah dia mngalir apa adanya.
Namun airmata tetap membanjir deras di pipi demi tujuan yang mulia ini.
Bapak, Ibu,Kakek, Nenek, Kakak, Adik, Paman, Bibi. Anak yang satu ini tidak bisa bersua lewat telphon ataupun lewat pesan singkat lewat phonsel karena tempat tujuan berada di luar jangkauan. Namun hanya bisa mengucapkan selamat di hari yang fitri ini lewat tulisan yang tak tahu nanti siapa yang akan membacanya, maafkan atas segala kesalahan yang di sengaja atau tidak di sengaja.
Aku hanya bisa termenung membayangkan suasana riang gembira di desa. Keluarga besar berkumpul sambil bercanda ria dan menikmati hidangan di hari raya, namun aku yang jauh dari keluarga hanya bisa menahan rindu dengan linangan air mata. Ya Alloh berikanlah kekuatan pada hamba-MU ini agar di kuatkan dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu yang mulia ini.
Aku hanya bisa berharap pada-MU ya Alloh agar bisa bertemu keluargaku dalam tidurku, alangkah bahagiannya malam nanti. Itulah harapanku.
Ya Alloh sejahterakanlah keluargaku dan jagalah mereka dalam naungan kasihsayang-MU.
Ya Alloh terimakasih... terimakasaih...
Thursday, September 18, 2008
dufa
bah
warna anyir menyengat
sampah menggunung tercabik lalat
tulang tersayat,terseok luka luku
darah kental mengalir
ringkikan pilu mengiringi
tolong....
suara itu datang
memecah sunyi dalam jemari
berlari melewati goncangan api
Hai anakku
lemparkan busurmu,
sigapkan tanganmu
pedang kan menjadi musuhmu
alampun menunduk
sang anak berlari
jruji besi mencekik laju dalam
peluh bergulir mengikuti
warna anyir menyengat
sampah menggunung tercabik lalat
tulang tersayat,terseok luka luku
darah kental mengalir
ringkikan pilu mengiringi
tolong....
suara itu datang
memecah sunyi dalam jemari
berlari melewati goncangan api
Hai anakku
lemparkan busurmu,
sigapkan tanganmu
pedang kan menjadi musuhmu
alampun menunduk
sang anak berlari
jruji besi mencekik laju dalam
peluh bergulir mengikuti
Saturday, September 13, 2008
Kearifan?
Kepada penyalur aspirasi
Mana bukti janjimu?
Kau memangku segudang tahta
Mampu bersilat lidah di depan massa
Massa menyanjungmu
Kaupun tersipu dan nyasar dalam gulita
Dimana letak kebijakanmu wahai penyandang gelar
Kemampuan berfikirmu sungguh menakjubkan
Namun sayang, kau tak ubahnya keledai yang clingukan
Hatimu tak serapi dan sebagus safarimu yang kau kenakan
“Kantongmu tebal, apa itu?” Oo uang…...
Orang bijak bilang:
“Berkhusnudzon saja lah”
Mana bukti janjimu?
Kau memangku segudang tahta
Mampu bersilat lidah di depan massa
Massa menyanjungmu
Kaupun tersipu dan nyasar dalam gulita
Dimana letak kebijakanmu wahai penyandang gelar
Kemampuan berfikirmu sungguh menakjubkan
Namun sayang, kau tak ubahnya keledai yang clingukan
Hatimu tak serapi dan sebagus safarimu yang kau kenakan
“Kantongmu tebal, apa itu?” Oo uang…...
Orang bijak bilang:
“Berkhusnudzon saja lah”
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sign by Dealighted - Coupons and Deals
