Sunday, February 1, 2009

kelana Sang Merpati

Apa yang bisa dilakukan
ketika bayang itu selalu muncul
dalam tiap pijakan langkah

Apa yang bisa dilakukan
ketika rasa rindu mencabik hati
dan mengiris sebagian raga


Sungguh!
semua seperti
himpitan jeruji kosong
sesak nan perih

Ketika dua merpati hinggap
terukir dalam tanjakan pematang
sebuah kisah, dimana
cinta tumbuh dalam dua samudra perbedaan

Terbanglah sang burung satu
mengepak sayap keatas
mencari mangsa
menebah angkasa Tuhan

Terbanglah sang burung dua
meniti langkah, merayap
dalam kepakan ekor,
dibawah lautan satu, janji Tuhan

Penantian
hanya menjadi saksi semu!

Friday, December 5, 2008

Ada, Tidak Ada

Melangkah tajam tak tentu arah

Mengepakkan sayap tak tahu tempat bertengger


Pemain tak ada permainan

Pelaku tak ada kelakuan


Penyabda, dimana sabda?

Penagih, dimana penghutang?


Kosong…..


Kabut hitam pembawa hujan, dimana turunnya hujan?


Padang pasir tergenang minyak?

Hutan gundul. Longsor menimbun pemukiman

Lambaian tangan negeri adidaya

Bercokol dana bantuan


Apa maksudnya?

Kemana larinya?


Akankah ada sang ayah berceritra pada anaknya;

“nak, dulu ada negara yang namanya Indonesia…..."

Monday, November 24, 2008

Di Desaku

Kabut hitam menyelimuti gunung
suasana pagi di desaku

jalan bertanjak menikung tajam
jalan berbatu dan berdebu

riuh bocah-bocah kecil permainan klereng
bola-bola karet malambung

langkah tegar pak tani dan bu tani
memburu sekarung padi

ayam jago rebutan betinanya
menthok yang mencari cacing di gangnya.

Tersimpan di memori yang terdalam

Friday, October 24, 2008

Aku Meninggalkanmu Karena kau MeninggalkanNYA

Kau salah aku salah
Kau benar aku benar
Dan DIA tidak pernah salah
Karena DIAlah yang maha benar

Kau yang mulai dan sebenarnya....
Kau pula yang mengakhiri dan aku tidak bermaksud mengakhiri

Kau meninggalkan-NYA
Aku meninggalkanmu

Kau tidak patuhi perintah-NYA
Aku melupakanmu

Kau cinta
Aku cita

Kau sayang

Aku sayang

Cinta DIA kepada kau dan aku melebihi cintamu padaku dan cintaku padamu
Kau cintai DIA aku mencintaimu
.....dan DIA, kau dan aku saling mencintai

Kau tidak cinta DIA aku tidak mencintamu
..... karena cintaku pada-NYA lebih besar daripada cintaku padamu

Berakhir sudah sampai sini cintaku padamu
Tidak akan berakhir cintaku pada-NYA.

Wednesday, October 1, 2008

Rinduku pada Keluarga

Dalam bimbang, kebingungan. Rasa rindu yang kian membuncah
rindu hanya bisa di tahan dan di ikat dan takkan pernah terlepas dari kungkungan. Rasa rindu kian meronta. Biarlah rasa rindu pada ibu, bapak dan seluruh keluarga berjalan apa adanya biarlah dia mngalir apa adanya.

Namun airmata tetap membanjir deras di pipi demi tujuan yang mulia ini.
Bapak, Ibu,Kakek, Nenek, Kakak, Adik, Paman, Bibi. Anak yang satu ini tidak bisa bersua lewat telphon ataupun lewat pesan singkat lewat phonsel karena tempat tujuan berada di luar jangkauan. Namun hanya bisa mengucapkan selamat di hari yang fitri ini lewat tulisan yang tak tahu nanti siapa yang akan membacanya, maafkan atas segala kesalahan yang di sengaja atau tidak di sengaja.

Aku hanya bisa termenung membayangkan suasana riang gembira di desa. Keluarga besar berkumpul sambil bercanda ria dan menikmati hidangan di hari raya, namun aku yang jauh dari keluarga hanya bisa menahan rindu dengan linangan air mata. Ya Alloh berikanlah kekuatan pada hamba-MU ini agar di kuatkan dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu yang mulia ini.

Aku hanya bisa berharap pada-MU ya Alloh agar bisa bertemu keluargaku dalam tidurku, alangkah bahagiannya malam nanti. Itulah harapanku.
Ya Alloh sejahterakanlah keluargaku dan jagalah mereka dalam naungan kasihsayang-MU.
Ya Alloh terimakasih... terimakasaih...


Thursday, September 18, 2008

dufa

bah
warna anyir menyengat
sampah menggunung tercabik lalat
tulang tersayat,terseok luka luku

darah kental mengalir
ringkikan pilu mengiringi

tolong....
suara itu datang
memecah sunyi dalam jemari
berlari melewati goncangan api

Hai anakku
lemparkan busurmu,
sigapkan tanganmu
pedang kan menjadi musuhmu

alampun menunduk
sang anak berlari
jruji besi mencekik laju dalam
peluh bergulir mengikuti

Saturday, September 13, 2008

Kearifan?

Kepada penyalur aspirasi

Mana bukti janjimu?

Kau memangku segudang tahta

Mampu bersilat lidah di depan massa

Massa menyanjungmu

Kaupun tersipu dan nyasar dalam gulita


Dimana letak kebijakanmu wahai penyandang gelar

Kemampuan berfikirmu sungguh menakjubkan

Namun sayang, kau tak ubahnya keledai yang clingukan

Hatimu tak serapi dan sebagus safarimu yang kau kenakan

“Kantongmu tebal, apa itu?” Oo uang…...


Orang bijak bilang:

“Berkhusnudzon saja lah”

Friday, September 12, 2008

Remuk

Resah, gelisah mengumpul jadi Satu

Harta tahta ku abaikan

Kendatipun banyak orang yang merebutkan.


“Kemana anak ayamku?” Tanya Ratib.

Ayammu takkan kembali, ada orang yang menembaknya kemaren sore, sahut bu sutinah.


Jeruji-jeruji pagar rumah membuncah, ambrol.

Kepala keluarga yang cuek dan tak tahu diri

Kenapa harus seperti ini.


Tak tahu menahu, Dogi. Anjingku yang lucu menjadi bringas memangsa merpatiku.

Oohh… merpatiku. Tidak!!... “Bukankah ini mimpi?”


Gelap.!!!!


Api….api… teriakku

Asap mengepul berbaur melambung ke atas awan sembari api melumat isi rumah

“Kemana ayah, kemana ibu.?”

Apa ini?, tidak…!!! ini mimpiku ini mimpiku

Gelap, gelap. Dimana aku


berjalan terseok mencari cahaya.

Tak dapati cahaya itu.

Menangis sejadinya.


Ngga’ jelas………..!!!!!!!


Monday, September 8, 2008

Kelana

Entah kenapa saat ini aku merasakan diriku yang hancur tiada pasti, aku tak bisa ucapkan walau sepatah katapun dalam jemari ini. dimana rasa yang selama ini terkias dalam jemariku. Aku tak bisakan ukir satu persatu dalam wajah ini. Aku hanya bisa titipkan senyum tuk mewakili semua ini. Dimana antara raga fikiran dan nafsu tak bisa jadikan satu dalam slimutku. Entah apa yang terjadi ini, kenapa aku melihat semuanya seperti layang-layang yang hancur tersayat dalam jeruji dahan. Tapi aku masih bisa tersenym lebar dengan penampakan ini. Sejujurnya aku merasa hidupku tertambat sejuta tanya yang menusuk tiap langkahku. Tapi entah kenapaaku tak pernah merasa terbebani dengan semua itu. Dimana apa yang sering aku lakukan ini. kurasakan sangat berbeda dengan kenyataan yang aku alami. Aku semakin tak bisa rasakan kenikmatan hidup dengan pertemuan ku dengan Dia yang slama ini ku Rindu. aku semakin merasa aku yang memang tidak menginginkan pertemuan ini. karna aku merasa, aku hanya bisa lemah ketika aku mencoba mendatangkanDia disampingku. hatiku kecil ketika dia hadir dalam diriku. sehingga akupun merasa aku tak ingin hanya menjadikan Dia tempatku berteduh, mungkin itu. tks

Sunday, September 7, 2008

Paduan Alam

Kepekaan jiwa yang rusak

Kedalaman relung hati yang tersasak

Angin mendesir dedaunan

Jiwa yang compang-camping berjalan

Anak-anak anjing berlarian kian kemari

ekor kambingpun bergoyang kanan kiri

Luka kemaren sore masih terasa pedih

hati menangis mengemis kasih

Pagi ini menyandang buram

kelam tetaplah kelam

Paduan warna takku kenal

mengumpul jadi satu

Keberadaan-NYA di hati begitu mengental

Sign by Dealighted - Coupons and Deals